Google+ Badge

Minggu, 31 Mei 2009

Sistem Evaluasi Hasil Belajar Siswa yang
Menghambat Pengembangan Karakter
Siswa SMA / MA
(Studi Kasus: MA AL HIDAYAH JENU TUBAN)









Oleh:
Kasman





MA ALHIDAYAH JENU
TUBAN
2009




KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan yang maha kuasa atas segala limpahan rahmat, taufiq, hidayah dan inayah – Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas pembuatan laporan hasil penelitian ini.

Dalam pembuatan laporan ini, kami tidak lupa mengucapkan teimah kasih yang sebesar – besarnya kepada :

1. Bapak Hisyam selaku Guru pembimbing yang telah memberikan bantuan dan arahan kepada kami. Sehingga kami dapat menyelesaikan tugas pembuatan laporan ini.

2. Teman - teman yang telah membantu terselesaikannya pembuatan laporan ini.

Akhir kata, kami mohon maaf apabila terdapat kekurangan pada laporan ini. Dan semoga laporan ini bermanfaat bagi kita semua.





BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Beberapa tahun berturut-turut peringkat Indonesia dalam Human Development Index (HDI) menempati posisi pada urutan bawah. HDI Indonesia tahun 2006 berada pada posisi 108 dari 177 negara (UNDP, 2006). Hal tersebut menunjukkan rendahnya kualitas SDM Indonesia. Salah satu faktor yang menentukan kualitas SDM adalah pendidikan. Kenyataan bahwa Indonesia menempati posisi bawah dalam HDI menunjukkan lemahnya manajemen sistem pendidikan di Indonesia.

Selama berpuluh-puluh tahun banyak kekurangan yang ada dalam sistem pendidikan di Indonesia. Kekurangan tersebut antara lain: terlalu berorientasi pada aspek akademis, teacher oriented, kurikulum yang terlalu berat, rasio guru dan murid yang tidak sesuai, dan aplikasi metode pendidikan yang digunakan kurang sesuai dengan tahapan perkembangan usia anak (Alvita, 2007). Akibatnya, SDM yang dihasilkan bukanlah SDM yang handal, namun sebaliknya SDM yang dihasilkan adalah generasi yang tidak percaya diri (apalagi kalau divonis dengan sistem rangking di sekolah), tidak bisa bekerja, tidak terampil, dan tidak berkarakter (Megawangi, et. al., 2005). Maka tidak heran jika mutu SDM Indonesia dalam HDI berada jauh dibawah Malaysia, Thailand, Filipina, dan terutama Singapura yang telah masuk dalam kategori high human development (UNDP, 2006).

Rendahnya HDI Indonesia yang berkorelasi dengan adanya kekurangan pada sistem pendidikan di Indonesia harus dibenahi. Selama ini karena tujuan pendidikan diarahkan untuk mencetak anak padai secara kognitif (yang menekankan pengembangan otak kiri saja dan hanya meliputi aspek bahasa dan logis matematis), maka banyak materi pelajaran yang berkaitan dengan pengembangan otak kanan (seperti kesenian, musik, imajinasi, dan pembentukan karakter) kurang mendapatkan perhatian (Megawangi, et. al., 2005). Padahal untuk menghasilkan SDM yang handal, salah satu syaratnya adalah karakter dari masing-masing individu haruslah baik. Hal ini menjadi suatu tantangan tersendiri bagi sekolah dan guru untuk memasukkan nilai-nilai budi pekerti dalam membentuk karakter yang kuat pada siswanya. Permasalahan yang dihadapi saat ini adalah sistem pendidikan yang ada kurang mendukung keleluasaan guru dalam memasukkan nilai-nilai karakter pada siswanya. Selain itu, keterampilan dan kekreatifan guru dalam memasukkan nilai-nilai karakter melalui pelajaran di sekolah pun patut untuk dipertanyakan karena selama ini guru cenderung hanya menuntaskan materi yang harus diajarkan pada siswa.

Permasalahan yang ada seputar sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia telah menjadi suatu bahan yang hangat untuk diperbincangkan, terutama bagi kalangan yang concern pada dunia pendidikan di Indonesia. Selain itu, karena pendidikan memegang peranan penting dalam mencetak kualitas SDM Indonesia, yang nantinya akan menentukan perkembangan bangsa ini. Diperlukan suatu solusi untuk mengatasi permasalahan pendidikan di Indonesia melalui terobosan baru dalam sistem pendidikannya. Oleh sebab itu, pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional melakukan beberapa perubahan dalam jangka waktu kurang lebih empat tahun terakhir ini agar dapat memberikan perubahan pada output dari pendidikan yang selama ini hanya mampu mencetak SDM pada posisi bawah HDI.

Perubahan yang dilakukan pada sistem pendidikan di Indonesia dilakukan melalui kurikulum yang berlaku. Sejak tahun 2004 dunia pendidikan Indonesia menerapkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang dipayungi oleh Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Namun pada tahun ajaran 2006/2007 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) diberlakukan menggantikan KBK 2004.

KTSP yang berlaku sejak tahun 2006 diharapkan dapat menyempurnakan sistem pendidikan yang ada sebelumnya di Indonesia (Kurikulum 1994 dan KBK 2004) serta mampu menjawab permasalahan pendidikan yang selama ini menjadi polemik dalam dunia pendidikan Indonesia. Akan tetapi semua hal tersebut tidak akan berarti jika implementasi di lapangan tidak mengalami perubahan dari sistem pendidikan dan kurikulum yang ada sebelumnya.

1.2 Perumusan Masalah

Sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia saat ini mengacu pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP merupakan penyempurnaan dari Kurikulum 2004 (KBK) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan/sekolah (Muslich, 2007). KTSP yang dipercayakan pada setiap tingkat satuan pendidikan hampir senada dengan prinsip implementasi KBK, perlu dipayungi oleh Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Artinya, hal tersebut merupakan pelimpahan wewenang yang besar kepada sekolah untuk memperbaiki mutu pendidikannya, baik dengan menyusun dan mengembangkan kurikulum, maupun dengan mendorong guru untuk berinovasi, dan mengajak partisipasi masyarakat (Megawangi, 2007).

KTSP yang saat ini berlaku pada sistem pendidikan di Indonesia memberikan keleluasaan bagi sekolah untuk “meramu” sendiri, mulai dari metode belajar mengajar hingga sistem penilaian evaluasi belajar siswanya. Kondisi tersebut merupakan tantangan tersendiri bagi sekolah untuk menghasilkan generasi yang berkualitas dengan mengoptimalkan semua sumberdaya yang dimiliki oleh sekolah.

Baru-baru ini beberapa MA AL HIDAYAH JENU telah melaksanakan evaluasi hasil belajar siswa. Studi kasus pada MA AL HIDAYAH JENU dalam pengimplementasian KTSP pada sistem evaluasi belajar siswa dapat dikatakan tidak sesuai dengan Developmentally Appropriate Practices dan cenderung melanggar hak anak. Berkenaan dengan hal tersebut, maka permasalahan yang akan dikaji adalah:

1. Bagaimana kriteria sekolah yang ideal sebagai tempat belajar yang kondusif untuk siswa, sehingga siswa dapat mengembangkan karakternya?

2. Bagaimana sistem penilaian kelas pada KTSP?

3. Bagaimana sistem evaluasi belajar siswa di MA AL HIDAYAH JENU ?

4. Apa dampak sistem evaluasi belajar di MA AL HIDAYAH JENU pada siswa?

5. Karakter apa yang dapat terbentuk pada siswa melalui sistem evaluasi belajar siswa (studi kasus: MA AL HIDAYAH JENU )?

6. Apa upaya yang dapat dilakukan oleh sekolah dalam menghadapi tantangan yang ada dalam pengimplementasian KTSP sekaligus dalam mengembangkan karakter siswa?

BAB II

TUJUAN

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:

1. Untuk mengetahui kriteria sekolah yang ideal sebagai tempat belajar yang kondusif untuk siswa, sehingga siswa dapat mengembangkan karakternya.

2. Untuk mengetahui sistem penilaian kelas pada KTSP.

3. Untuk mengetahui sistem evaluasi belajar siswa di MA AL HIDAYAH JENU.

4. Untuk mengetahui dampak sistem evaluasi belajar di MA AL HIDAYAH JENU pada siswa.

5. Untuk mengetahui karakter apa yang dapat terbentuk pada siswa melalui sistem evaluasi belajar siswa (studi kasus: MA AL HIDAYAH JENU ).

6. Untuk mengetahui upaya yang dapat dilakukan oleh sekolah dalam menghadapi tantangan yang ada dalam pengimplementasian KTSP sekaligus dalam mengembangkan karakter siswa.

BAB III

Pembahasan

Filosofi pendidikan yang dikemukakan oleh Socrates dalam Megawangi (2007) pada 2400 tahun yang lalu yaitu untuk membentuk seseorang menjadi good and smart. Good dalam aspek karakter dan smart dalam aspek intelektualitas, atau manusia yang baik dan bijak, yakni orang yang dapat menggunakan kepandaiannya kepada hal-hal yang baik. Akan tetapi jika kita melihat sistem pendidikan saat ini mungkin telah menyalahi filosofi pendidikan Socrates (Megawangi, 2007).

Untuk membentuk individu yang good and smart diperlukan sistem pendidikan yang menyenangkan bagi peserta didiknya, sehingga anak mampu mengembangkan seluruh potensi yang ada dalam dirinya. Potensi yang ada dalam diri manusia meliputi potensi akademik, potensi fisik, potensi sosial, potensi kreatif, potensi emosi dan potensi spiritual (Megawangi, et. al., 2005). Manusia yang mampu mengembangkan seluruh potensinya merupakan manusia yang holistik, yaitu manusia pembelajar sejati yang selalu menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari sebuah sistem kehidupan yang luas, sehingga selalu ingin memberikan kontribusi positif kepada lingkungan hidupnya (Megawangi, et. al., 2005). Tujuan pendidikan di Indonesia yang tertuang pada Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 adalah untuk membentuk manusia yang holistik dan berkarakter (Megawangi, et. al., 2005). Manusia holistik dan berkarakter merupakan human capital untuk bagi perkembangan suatu bangsa. Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana cara yang dapat ditempuh untuk menghasilkan manusia holistik dan berkarakter? Kita akan memulai pembahasan dengan apa saja yang dibutuhkan oleh sekolah agar menjadi sekolah yang “ideal”.

Kriteria Sekolah “Ideal”

Sekolah yang ideal merupakan sekolah yang kondusif dan menyenangkan bagi siswanya untuk belajar. Suasana yang kondusif dan menyenangkan memungkinkan siswa untuk dapat mengembangkan seluruh potensi yang ada dalam dirinya. Merujuk pada pendapat Megawangi, et. al (2005), sekolah dapat dikatakan ideal bagi siswa untuk menerima kegiatan belajar mengajar apabila memenuhi kriteria sebagai berikut:

Student Active Learning

Partisipasi aktif anak dalam proses belajar merupakan hal yang sangat vital dan dapat dikatakan sebagai “jantung” dari proses belajar yang efektif. Anak pada dasarnya mempunyai rasa keingintahuan yang besar sekali sehingga mendorong untuk selalu bertanya. Anak harus dilibatkan secara langsung dalam proses belajar dengan menunjukkan objek-objek secara kongkrit dan dirangsang rasa keingintahuannya melalui diskusi kelas. Jadi, anak mengalami secara langsung semua hal yang dipelajarinya, dan tidak hanya mendengarkan guru (teacher oriented) yang membuat anak menjadi pasif, sehingga segala sesuatu yang diperoleh anak dalam proses belajar mengajar akan bertahan lama dan dapat diimplementasikan pada kehidupan sehari-harinya. Adanya keterlibatan langsung anak dalam proses belajar melalui pemberian pengalaman yang kongkret maka akan membentuk kesadaran yang dapat memberikan manfaat langsung dan memberikan makna hakiki pada anak. Selain itu, kesadaran dapat ditumbuhkan melalui apresiasi terhadap keindahan, kekaguman tentang alam, dan perbuatan kebajikan. Hal ini juga dapat dilakukan dengan mendidik anak untuk merasakan, baik melalui perenungan ataupun melalui tindakan yang bermanfaat dan merasakan kebenaran dari tindakan tersebut. Disamping semua itu, hal terpenting yang dapat ditumbuhkan dari proses belajar aktif adalah dapat meningkatkan kemampuan fisik, kreatifitas, emosi, sosial, spiritual, dan akademik. Dari uraian tersebut, maka secara tidak langsung akan terbentuk good character pada anak.

Developmentally Appropriate Practicess (DAP)

DAP atau dalam terjemahan bebas Bahasa Indonesia adalah pendidikan yang patut dan menyenangkan sesuai dengan tahapan perkembangan anak, mencerminkan proses pembelajaran yang bersifat interaktif. Konsep DAP yang dikembangkan melalui baragam kegiatan yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak menyebabkan anak memiliki pengalaman yang kongkret serta menyenangkan saat terjadinya proses belajar, sehingga dapat menumbuhkan kesadaran (awareness) pada anak.

Collaborative Learning

Collaborative learning adalah metode yang melibatkan siswa dalam diskusi dalam upaya untuk mencari jawaban atau sebuah solusi yang sedang dipelajari. Implementasi collaborative learning dapat dilakukan metode cooperative learning, yaitu siswa bekerja bersama-sama, berhadapan muka dalam kelompok kecil dan melakukan tugas yang sudah terstruktur. Terdapat beberapa keuntungan dengan mengaplikasikan cooperative learning, diantaranya adalah siswa belajar bagaimana mengelola kelompok (termasuk juga mengelola konflik), siswa dapat berpartisipasi aktif dengan mencelupkan anak pada kegiatan yang mengasyikkan, siswa dapat menjadi guru bagi kawannya, penghargaan diberikan pada setiap individu karena semua kontribusi yang diberikan oleh masing individu dihargai, siswa dapat melihar perspektif yang lebih lengkap dengan berdiskusi antar sesama kawan yang dapat pula mengembangkan kemampuan interpersonalnya.

Multiple Intelligences

Gardner (2003) menyebutkan bahwa terdapat tujuh kecerdasan pada diri manusia, yaitu: kecerdasan musik, kecerdasan gerakan-badan, kecerdasan logika-matematika, kecerdasan linguistik, kecerdasan ruang, kecerdasan antar pribadi, kecerdasan intra pribadi. Sekolah yang ideal adalah sekolah yang mampu mengembangkan kecerdasan yang ada pada diri tiap individu dengan menghargai segala keunikan dan perbedaannya. Apabila sekolah mampu mengembangkan satu saja aspek kecerdasan yang ada pada diri siswanya (namun dilakukan secara optimal), maka dapat terbentuk individu yang benar-benar cerdas di bidangnya karena ia melakukan sesuatu yang sesuai dengan keinginan dan minatnya.

Apabila semua kriteria sekolah ideal dilaksanakan oleh sekolah maka anak akan mendapatkan pengalaman belajar yang efektif dan menyenangkan, serta dapat mengembangkan seluruh aspek dimensi manusia secara holistik.

Sistem Penilaian Kelas pada KTSP

Penilaian kelas merupakan proses pengumpulan dan penggunaan informasi oleh guru untuk pemberian keputusan terhadap hasil belajar siswa berdasarkan tahapan kemajuan belajarnya sehingga didapatkan potret atau profil kemampuan siswa sesuai dengan kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum (Muslich, 2007). Muslich (2007) menyebutkan bahwa ada beberapa bentuk dan teknik yang bisa dilakukan dalam penilaian kelas, yaitu:

1. Penilaian kinerja (performance)

2. Penilaian penugasan (project)

3. Penilaian hasil kerja (product)

4. Penilaian tes tertulis (paper & pen)

5. Penilaian portofolio (portofolio)

6. Penilaian sikap

Paper ini akan membahas metode yang digunakan oleh sekolah dalam penilaian tes tertulis, maka pembahasan pada bagian ini hanya dikhususkan pada penilaian tes tertulis saja. Penilaian tes secara tertulis dilakukan dengan tes tertulis. Tes tertulis merupakan tes dimana soal dan jawaban yang diberikan kepada peserta didik dalam bentuk tulisan (Muslich, 2007). Contoh penilaian tertulis tipe objektif antara lain: jawaban benar-salah, isian singkat, pilihan ganda, menjodohkan. Sedangkan contoh penilaian tertulis tipe subjektif antara lain: pengerjaan soal, latihan, membaca pemahaman, esai terstruktur, esai bebas.

Sistem Evaluasi Belajar Siswa di MA AL HIDAYAH JENU

Evaluasi belajar siswa umumnya secara serentak dilaksanakan pada tiap sekolah pada akhir semester kegiatan belajar mengajar. Begitu juga yang terjadi di MA AL HIIDAYAH JENU. Evaluasi belajar siswa yang dilaksanakan di akhir semester dilakukan dengan metode penilaian tes tertulis.

KTSP merupakan kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan/sekolah (Muslich, 2007). Karena disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan/sekolah maka dalam implementasinya sekolah diberi kewenangan untuk menyusun metode pembelajaran, termasuk sistem evaluasi belajar siswa. Evaluasi belajar siswa (ujian) pada MA AL HIDAYAH JENU hanya dilaksanakan selama lima hari, terhitung mulai hari Senin hingga Jumat. Dalam lima hari ujian, terdapat 12-14 mata pelajaran (ada perbedaan jumlah mata pelajaran dari masing-masing tingkat kelas) yang harus diselesaikan oleh siswa. Akibatnya adalah ada beberapa hari ujian yang harus dilalui siswa dengan 3 mata pelajaran yang harus diujiankan.

Dampak Sistem Evaluasi Belajar Siswa di MA AL HIDAYAH JENU

Penulis telah melakukan penelitian pada 16 siswa MA AL HIDAYAH JENU mengenai hal yang terkait dengan sistem evaluasi belajar siswa serta apa dampak yang ditimbulkan pada siswa. Sebanyak 14 siswa dari 16 siswa atau 87,5% siswa merasa keberatan dengan sistem evaluasi belajar dimana siswa harus mengikuti 3 mata pelajaran yang diujiankan dalam satu hari. Dampaknya pada siswa adalah siswa akan mengalami stress. Dari 16 siswa, 15 siswa atau 93,75% siswa mengalami stress karena sistem evaluasi hasil belajar yang diterapkan di sekolahnya. Artinya sebagian besar siswa keberatan dengan adanya ujian tiga mata pelajaran dalam satu hari serta dampak yang ditimbulkan dari sistem yang berlaku tersebut adalah siswa mengalami stress.

Membebankan siswa tiga mata pelajaran dalam satu hari ujian bukan merupakan hal yang manusiawi. Tidak semua siswa memiliki potensi akademis yang sama. Teori kurva bel yang dijelaskan oleh Megawangi (2004), menunjukkan sebaran normal pada distribusi kecerdasan intelektual pada seluruh manusia yang ada di muka bumi. Artinya, individu yang memiliki IQ di atas 115 tidak lebih dari 15% penduduk, begitu pula dengan penduduk yang memiliki tingkat kecerdasan rendah (dibawah 85) hanya berjumlah 15%. Sisanya adalah penduduk yang memiliki tingkat kecerdasan rata-rata, yakni berkisar antara 85-115. Sistem evaluasi belajar siswa yang diberlakukan pada MA AL HIDAYAH JENU mungkin hanya tepat untuk siswa 15% teratas, lalu pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana dengan siswa yang memiliki kecerdasan 85% sisanya? Mereka akan mengalami stress. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh penulis, lebih dari 85% siswa mengalami stress. Hal tersebut mengindikasikan bahwa siswa yang termasuk dalam kategori 15% teratas pun dapat mengalami stress dengan sistem evaluasi hasil belajar yang tidak sesuai Developmentally Appropriate Practices.

Umumnya sekolah hanya mengujiankan dua mata pelajaran saja dalam satu hari. Kebijakan yang diambil oleh MA AL HIIDAYAH JENU dengan memberlakukan tiga mata pelajaran dalam satu hari ujian telah melanggar hak anak. Hak anak yang dilanggar adalah dengan memberikan metode pendidikan yang tidak menyenangkan pada anak sehingga anak mengalami stress. Dalam keadaan stress atau under pressure umumnya manusia tidak bisa melakukan segala sesuatu secara optimal, termasuk belajar untuk menyiapkan ujian. Akibat yang dapat ditimbulkan dari keadaan ini adalah dapat memicu perilaku negatif pada siswa yang dapat mempengaruhi karakternya. Perilaku apa saja yang dapat terjadi serta karakter apa yang dapat terbetuk pada siswa akan dijelaskan pada bagian selanjutnya.

Karakter yang Dapat Terbentuk pada Siswa Melalui Sistem Evaluasi Belajar Siswa

Dampak yang ditimbulkan dari sistem evaluasi belajar siswa dengan tiga mata pelajaran dalam satu hari ujian adalah stress pada siswa. Dalam keadaan stress atau under pressure umumnya manusia tidak bisa melakukan segala sesuatu secara optimal, termasuk belajar untuk menyiapkan ujian. Akibat yang dapat ditimbulkan dari keadaan ini adalah dapat memicu perilaku negatif. Pada taraf tertentu perilaku negatif tersebut akan “mendarah daging” pada siswa sehingga dapat mempengaruhi karakternya.

Perilaku negatif yang timbul akibat tekanan tiga mata pelajaran dalam satu hari ujian adalah dapat mendorong anak untuk melakukan tindakan curang pada saat ujian. Tindakan curang tersebut antara lain: “bekerjasama” dalam mengerjakan soal dengan temannya, mencontek, melihat jawaban teman, dan perilaku tidak jujur lainnya.

Tindakan negatif yang dilakukan oleh siswa pada saat ujian dapat diketahui dari komentar beberapa siswa tentang ujian yang telah berlangsung. Ada yang menuliskan “jangan membuat hal-hal yang mencurigakan (kalo bikin contekan)”, komentar lain menuliskan “pengawas yang berlebihan menyebabkan ketegangan dalam menghadapi ujian”. Pernyataan-pernyataan siswa tersebut dapat memberikan gambaran secara jelas bahwa telah terjadi perilaku negatif siswa pada saat ujian. Selain itu, sistem evaluasi belajar siswa seperti yang terjadi pada MA AL HIIDAYAH JENU dapat mengubah orientasi belajar siswa. Orientasi belajar siswa bukan lagi untuk memperoleh ilmu, tetapi hanya semata-mata untuk mendapatkan nilai yang tinggi atau hanya sekedar memenuhi batas kelulusan (supaya tidak mengikuti remedial). Akibatnya, apabila orientasi siswa hanya untuk mendapatkan nilai maka karakter yang akan terbentuk padanya adalah ia akan melakukan segala cara untuk mencapai apa yang ia inginkan, tentunya cara-cara yang dilakukannya bukanlah cara yang baik. Saat dewasa, karakter yang terbentuk sejak di bangku sekolah akan termanifestasi pada perilaku menipu, korupsi, kolusi, nepotisme, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya (kepentingan pribadi).

Sekolah sebagai salah satu institusi yang bertanggung jawab dalam pembentukan karakter anak sudah tidak dapat dipertanggungjawabkan lagi kredibilitasnya. Jika keadaan sudah demikian parah, maka tujuan pendidikan yang tertuang dalam UU No. 20 tahun 2003, untuk membentuk manusia yang holistic dan berkarakter tidak akan dapat terwujud. Pendapat Megawangi (2007) pun benar, bahwa sistem pendidikan saat ini telah menyalahi filosofi pendidikan Socrates 2400 tahun yang lalu, yaitu pendidikan untuk membentuk manusia yang good and smart. Good dalam karakter dan smart dalam intelektual. Bisa jadi dengan sistem evaluasi hasil belajar seperti yang terjadi pada MA AL HIIDAYAH JENU, pendidikan di Indonesia tidak mampu mengembangkan filosofi dasar pendidikan seperti yang disebutkan oleh Socrates.

Jika dampak yang dapat ditimbulkan hanya dengan satu masalah (sistem evaluasi hasil belajar yang tidak tepat) dapat demikian hebat di masa yang akan datang dan mampu menggoyahkan stabilitas bangsa, maka apa yang dapat diupayakan oleh sekolah untuk meminimalisir kemungkinan tersebut?

Upaya yang Dapat Dilakukan oleh Sekolah dalam Menghadapi Tantangan Pengimplementasian KTSP Sekaligus dalam Mengembangkan Karakter Siswa

KTSP yang dipercayakan pada setiap tingkat satuan pendidikan hampir senada dengan prinsip implementasi KBK, perlu dipayungi oleh Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Artinya, hal tersebut merupakan pelimpahan wewenang yang besar kepada sekolah untuk memperbaiki mutu pendidikannya, baik dengan menyusun dan mengembangkan kurikulum, maupun dengan mendorong guru untuk berinovasi, dan mengajak partisipasi masyarakat (Megawangi, 2007). Menghadapi tantangan perubahan kurikulum yang tujuannya adalah untuk memudahkan sekolah untuk mengoptimalkan seluruh sumberdaya yang ada, upaya yang dapat dilakukan sekolah dalam mengimplementasikan KTSP sekaligus dalam mengembangkan karakter siswanya dapat ditempuh melalui cara sebagai berikut (Lickona dalam Megawangi,2004):

1. Pendidikan karakter harus mengandung nilai-nilai yang dapat membentuk “Good

Character”

2. Pendidikan karakter harus didefinisikan secara menyeluruh yang termasuk aspek “Thinking,Feeling, dan Action”

3. Pendidikan karakter yang efektif memerlukan pendekatan komprehensif, dan terfokus dari aspek guru sebagai “role model” disiplin sekolah, kurikulum, proses pembelajaran, manajemen kelas dan sekolah, integrasi materi karakter dalam seluruh aspek kehidupan kelas, kerjasama orang tua dan masyarakat, dan sebagainya.

4. Sekolah harus menjadi model “masyarakat yang damai dan harmonis”. Sekolah merupakan miniature dari bagaimana seharusnya kehidupan di masyarakat, di mana masing-masing individu dapat saling menghormati, bertanggung jawab, saling peduli, dan adil. Hal ini dapat diciptakan dengan berbagai cara yang tersedia pada buku-buku petunjuk pendidikan karakter.

5. Untuk mengembangkan karakter, para murid memerlukan kesempatan untuk mempraktekkannya; bagaimana berperilaku moral. Misalnya bagaimana berlatih untuk bekerja sosial (memberikan sumbangan ke panti asuhan, panti wreda, membersihkan lingkungan, dan sebagainya), menyelesaikan konflik, berlatih menjadi individu yang bertanggung jawab dan sebagainya.

6. Pendidikan karakter yang efektif harus mengikutsertakan materi kurikulum yang berarti bagi kehidupan anak, atau berbasis kompetensi (life skills) sehingga anak merasa mampu menghadapi dan memecahkan masalah kehidupan.

7. Pendidikan karakter harus membangkitkan motivasi internal dari diri anak, misalnya dengan membangkitkan rasa bersalah pada diri anak kalau mereka melakukan tindakan negatif, atau membangkitkan rasa empati agar anak sensitif terhadap kesulitan orang lain.

8. Seluruh staf sekolah harus terlibat dalam pendidikan karakter. Peran kepala sekolah sangat besar dalam mobilisasi staf untuk menjadi bagian dari proses pendidikan karakter.

9. Pendidikan karakter di sekolah memerlukan kepemimpinan moral dari berbagai pihak; pimpinan, staf, dan para guru.

10. Sekolah harus bekerjasama dengan orang tua murid dan masyarakat sekitarnya.

11. Harus ada evaluasi berkala mengenai keberhasilan pendidikan karakter di sekolah. Sekolah harus mempunyai standar keberhasilan dari pendidikan karakter, yang mencakup aspek bagaimana perkembangan guru/staf sebagai pendidik karakter, dan bagaimana perkembangan karakter murid-murid. Khusus untuk guru/staf sebagai model “person of character” adalah sangat krusial terhadap keberhasilan pendidikan karakter di sekolah. Oleh karena itu, pemahaman dan pelatihan kepada guru amat penting untuk dilakukan.

Dalam memasukkan nilai-nilai karakter pada siswa, hal yang tidak dapat dipisahkan adalah peran guru. Guru sebagai pendidik karakter harus mendapatkan pelatihan khusus, dan menggunakan modul atau kurikulum yang sudah tersedia untuk diterapkan di sekolahnya. Menurut Karen Bohlin, Deborah Farmer, dan Kevin Ryan dalam Megawangi (2004), ada tujuh kompetensi yang harus dimiliki oleh para pendidik atau guru karakter:

1. Para pendidik haru dapat menjadikan dirinya sebagai contoh berkarakter yang baik dan mempunyai komitmen untuk menegakkan kebenaran

2. Para pendidik harus mampu menjadikan tujuan pembentukan karakter muridnya sebagai suatu yang prioritas dan merupakan bagian terpenting dari pekerjaan profesionalnya

3. Para pendidik harus senantiasa mengadakan diskusi tentang isu-isu moral dengan murid-muridnya, tentang bagaimana seharusnya menjalankan hidup, serta menjelaskan apa yang baik dan apa yang buruk.

4. Para pendidik harus dapat menyampaikan secara diplomasi (bijak) mengenai posisinya pada isu-isu etika, tanpa harus membebani mereka dengan pendapat dan opini pribadi

5. Para pendidik harus dapat mengajarkan empati terhadap orang lain, yaitu mengajaknya untuk keluar dari diri mereka dan melihat dari perspektif orang lain

6. Para pendidik harus dapat menciptakan suasana kelas yang bernuansa karakter, yang menerapkan standar etika tinggi dan penghormatan untuk semua

7. Para pendidik harus dapat membuat serangkaian aktivitas untuk mempraktekkan nilai-nilai karakter di rumah, di sekolah, dan di komunitas lingkungan, agar mereka bisa tumbuh menjadi manusia yang peduli untuk selalu melakukan kebajikan.

Dalam kasus sistem evaluasi belajar siswa, yang dapat dilakukan sekolah adalah dengan tidak hanya menerapkan sistem tes tertulis, namun juga bisa dilakukan dengan penilaian portofolio (puisi, karangan, gambar, makalah, laporan observasi), penilaian kinerja (wawancara, diskusi, debat, bercerita, bermain peran), penilaian produk (kerajinan tangan, patung, merajut, bazar), penilaian tingkah laku (skala sikap, kuesioner, ungkapan perasaan, penilaian diri, buku harian, pengamatan perilaku). Melalui sistem penilaian yang beragam tersebut diharapkan siswa mampu mengembangkan seluruh potensinya karena ada keterlibatan langsung siswa dalam setiap penilaian yang dilakukan, penilaian yang dilakukan juga bersifat kongkrit sehingga siswa lebih mampu memahami makna dari setiap penilaian. Selain itu, penilaian selain penilaian testertulis lebih mendorong siswa untuk berkerja bersama-sama dalam kelompok sehingga mampu mengembangkan softskill berupa team work.

BAB IV

PENUTUP

Permasalahan rendahnya kualitas SDM Indonesia yang terlihat dari rendahnya peringkat Indonesia dalam HDI 2006 menunjukkan harus ada yang dibenahi pada sistem pendidikan di Indonesia. pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional telah melakukan perubahan pada sistem pendidikan dengan memberlakukan KTSP. Melalui sistem pendidikan yang baru, sekolah diberi keleluasaan untuk mengembangkan semua potensi yang dimiliki agar dapat dihasilhan generasi penerus bangsa yang berkualitas. Namun, perubahan tersebut tidak akan ada artinya jika implementasinya tidak sesuai dengan filosofi dasar pendidikan, yakni membentuk anak yang good dalam karakter dan smart dalam intelektualitas. Implementasi KTSP di MA AL HIIDAYAH JENU pada sistem evaluasi hasil belajarnya dapat memberikan gambaran pada kita bagaimana ketidakmampuan sekolah dalam mengorganisir pengimplementasian KTSP. Sistem evaluasi hasil belajar pada MA AL HIDAYAH JENU justru menumbuhkan karakter yang buruk pada siswanya karena jadwal ujian yang sangat padat. Apabila hal tersebut dibiarkan, maka dapat menghambat pengembangan karakter yang baik pada siswa. Untuk mengatasi permasalahan tersebut pihak sekolah, guru, kurikulum dan juga metode pembelajaran harus terintegrasi dalam sekolah yang “ideal serta metode pendidikan yang diterapkan menganut pada konsep pendidikan holistik berbasis karakter. Hal ini dirasa penting untuk dilakukan agar output yang dihasilkan dari pendidikan di Indonesia adalah generasi/manusia yang holistik dan berkarakter yang mampu mengatasi segala permasalahan bangsa.


Comments
2 Comments

2 komentar:

ini adalah tugas sosiologi yang juga sebagai tugas akhir sekolah.......
bravo.......:D

Akhirnya.... selesai juga tugas sekolah terakhirku....... :D

Posting Komentar

silahkan komentari

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More